Jumat, 29 Mei 2015

Materi : Bhavana dan Upacara kelahiran, perkawinan, kematian dalam agama Hindu Kelompok : (3) Shofiyatul Fithriyah , Nur Fitri Barliyana, Sadawi, Anifah Ayu Fitriah

Materi             : Bhavana dan Upacara kelahiran, perkawinan, kematian dalam agama Hindu
Kelompok      :  (3) Shofiyatul Fithriyah , Nur Fitri Barliyana, Sadawi, Anifah Ayu Fitriah
A.   Ajaran Buddha tentang Bhavana
a.       Pengertian Bhavana
Bhavana berarti pengembangan, yaitu pengembangan batin dalam melaksanakan pembersihannya. Istilah lain yang arti dan pemakaianya hampir sama dengan Bhavana adalah Samadhi. Samadhi berarti pemusatan pikiran pada suatu obyek.
b.      Macam-macam Bhavana
1.      Samatha Bhavana
Berarti pengembangan pandangan batin yang bertujuan untuk mencapai ketenangan, batin terutama pikiran terpusat dan tertuju pada suatu obyek.
2.      Vivasana Bhavana
Berarti pengembangan pandangan terang yang bertujuan untuk mencapai pandangan terang.
B.   Upacara kelahiran, perkawinan dan kematian dalam agama Hindu
a.       Makna kelahiran dan upacaranya
Manusa artinya manusia, Yadnya artinya upacara persembahan suci yang tulus ikhlas. Upacara Manusa Yadnya adalah upacara persembahan suci yang tulus ikhlas dalam rangka pemeliharaan, pendidikan serta penyucian secara spiritual terhadap seseorang sejak terwujudnya jasmani di dalam kandungan sampai akhir kehidupan.
Upacara manusa yadnya erat sekali hubungannya dengan Catur Purusa Arta yang artinya empat tingkatan atau jenjang dalam menjalani hidup ini. Bagian dari catur purusa arta adalahbrahmacari, grehasta, wanaprasta, dan bhiksuka. Dalam Jenjang-jenjang hidup inilah kita akan mengalami yang disebut manusia dalam agama tadi. Sebelum manusia itu dilahirkan dan masuk pada jenjang-jenjang kehidupan.
b.      Makna perkawinan dan upacaranya
Upacara Perkawinan (Pawiwahan / Wiwaha) pada hakekatnya adalah upacara persaksian ke hadapan Tuhan Yang Maha Esa dan kepada masyarakat bahwa kedua orang yang bersangkutan telah mengikatkan diri sebagai suami-istri.
Sarana             :
1. Segehan cacahan warna lima.
2. Api takep (api yang dibuat dari serabut kelapa).
3. Tetabuhan (air tawar, tuak, arak).
4. Padengan-dengan/ pekala-kalaan.
5. Pejati.
6. Tikar dadakan (tikar kecil yang dibuat dari pandan).
7. Pikulan (terdiri dari cangkul, tebu, cabang kayu dadap yang ujungnya diberi periuk, bakul yang berisi uang).
8. Bakul.
9. Pepegatan terdiri dari dua buah cabang dadap yang dihubungkan dengan benang putih.
Waktu Biasanya dipilih hari yang baik, sesuai dengan persyaratannya (ala-ayuning dewasa). Tempat Dapat dilakukan di rumah mempelai Iaki-laki atau wanita sesuai dengan hokum adat setempat (desa, kala, patra). Pelaksana Dipimpin oleh seorang Pendeta / Pinandita / Wasi / Pemangku.
Tata cara
1. Sebelum upacara natab banten pedengan-dengan, terlebih dahulu mempelai mabhyakala dan maprayascita.
2. Kemudian mempelai mengelilingi sanggah Kamulan dan sanggah Pesaksi sebanyak tiga kali serta dilanjutkan dengan jual beli antara mempelai Iaki-laki dengan mempelai wanita disertai pula dengan perobekan tikar dadakan oleh mempelai Iaki-laki.
3. Sebagai acara terakhir dilakukan mejaya-jaya dan diakhiri dengan natab banten dapetan. Bagi Umat Hindu upacara perkawinan mempunyai tiga arti penting yaitu :
- Sebagai upacara suci yang tujuannya untuk penyucian diri kedua calon mempelai agar mendapatkan tuntunan dalam membina rumah tangga dan nantinya agar bisa mendapatkan keturunan yang baik dapat menolong meringankan derita orang tua/leluhur.
- Sebagai persaksian secara lahir bathin dari seorang pria dan seorang wanita bahwa keduanya mengikatkan diri menjadi suami-istri dan segala perbuatannya menjadi tanggung jawab bersama.
- Penentuan status kedua mempelai, walaupun pada dasarnya Umat Hindu menganut sistim patriahat (garis Bapak) tetapi dibolehkan pula untuk mengikuti sistim patrilinier (garis Ibu). Di Bali apabila kawin mengikuti sistem patrilinier (garis Ibu) disebut kawin nyeburin atau nyentana yaitu mengikuti wanita karena wanita nantinya sebagai Kepala Keluarga.
Upacara Pernikahan ini dapat dilakukan di halaman Merajan/Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga) dengan tata upacara yaitu kedua mempelai mengelilingi Sanggah Kemulan ( Tempat Suci Keluarga ) sampai tiga kali dan dalam perjalanan mempelai perempuan membawa sok pedagangan ( keranjang tempat dagangan) yang laki memikul tegen-tegenan (barang-barang yang dipikul) dan setiap kali melewati “Kala Sepetan”(upakara sesajen yang ditaruh di tanah) kedua mempelai menyentuhkan kakinya pada serabut kelapa belah tiga.
Setelah tiga kali berkeliling, lalu berhenti kemudian mempelai laki berbelanja sedangkan mempelai perempuan menjual segala isinya yang ada pada sok pedagangan (keranjang tempat dagangan), dilanjutkan dengan merobek tikeh dadakan (tikar yang ditaruh di atas tanah), menanam pohon kunir, pohon keladi (pohon talas) serta pohon endong dibelakang sanggar pesaksi/sanggar Kemulan (Tempat Suci Keluarga) dan diakhiri dengan melewati "Pepegatan" (Sarana Pemutusan) yang biasanya digunakan benang didorong dengan kaki kedua mempelai sampai benang tersebut putus.
c.       Makna kematian dan upacaranya
Ngaben merupakan salah satu upacara yang dilakukan oleh Umat Hindu di Bali yang tergolong upacara Pitra Yadnya (upacara yang ditunjukkan kepada Leluhur). Ngaben secara etimologis berasal dari kata api yang mendapat awalan nga, dan akhiran an, sehingga menjadi ngapian, yang disandikan menjadi ngapen yang lama kelamaan terjadi pergeseran kata menjadi ngaben. Upacara Ngaben selalu melibatkan api, api yang digunakan ada 2, yaitu berupa api konkret (api sebenarnya) dan api abstrak (api yang berasal dari Puja Mantra Pendeta yang memimpin upacara). Versi lain mengatakan bahwa ngaben berasal dari kata beya yang artinya bekal, sehingga ngaben juga berarti upacara memberi bekal kepada Leluhur untuk perjalannya ke Sunia Loka
Bentuk-bentuk Upacara Ngaben
1.      Ngaben Sawa Wedana
Sawa Wedana adalah upacara ngaben dengan melibatkan jenazah yang masih utuh (tanpa dikubur terlebih dahulu) . Biasanya upacara ini dilaksanakan dalam kurun waktu 3-7 hari terhitung dari hari meninggalnya orang tersebut. Pengecualian biasa terjadi pada upacara dengan skala Utama, yang persiapannya bisa berlangsung hingga sebulan. Sementara pihak keluarga mempersiapkan segala sesuatu untuk upacara maka jenazah akan diletakkan di balai adat yang ada di masing-masing rumah dengan pemberian ramuan tertentu untuk memperlambat pembusukan jenazah. Dewasa ini pemberian ramuan sering digantikan dengan penggunaan formalin. Selama jenazah masih ditaruh di balai adat, pihak keluarga masih memperlakukan jenazahnya seperti selayaknya masih hidup, seperti membawakan kopi, memberi makan disamping jenazah, membawakan handuk dan pakaian, dll sebab sebelum diadakan upacara yang disebut Papegatan maka yang bersangkutan dianggap hanya tidur dan masih berada dilingkungan keluarganya.
2.      Ngaben Asti Wedana
Asti Wedana  adalah upacara ngaben yang melibatkan kerangka jenazah yang telah pernah dikubur. Upacara ini disertai dengan upacara ngagah, yaitu upacara menggali kembali kuburan dari orang yang bersangkutan untuk kemudian mengupacarai tulang belulang yang tersisa. Hal ini dilakukan sesuai tradisi dan aturan desa setempat, misalnya ada upacara tertentu dimana masyarakat desa tidak diperkenankan melaksanakan upacara kematian dan upacara pernikahan maka jenazah akan dikuburkan di kuburan setempat yang disebut dengan upacara Makingsan ring Pertiwi ( Menitipkan di Ibu Pertiwi).
3.      Swasta
Swasta adalah upacara ngaben tanpa memperlibatkan jenazah maupun kerangka mayat, hal ini biasanya dilakukan karena beberapa hal, seperti : meninggal di luar negeri atau tempat jauh, jenazah tidak ditemukan, dll. Pada upacara ini jenazah biasanya disimbolkan dengan kayu cendana (pengawak) yang dilukis dan diisi aksara magis sebagai badan kasar dari atma orang yang bersangkutan.
Tujuan Upacara Ngaben
Upacara ngaben secara konsepsional memiliki makna dan tujuan sebagai berikut :
1.      Dengan membakar jenazah maupun simbolisnya kemudian menghanyutkan abu ke sungai, atau laut memiliki makna untuk melepaskan Sang Atma (roh) dari belenggu keduniawian sehingga dapat dengan mudah bersatu dengan Tuhan (Mokshatam Atmanam)
2.      Membakar jenazah juga merupakan suatu rangkaian upacara untuk mengembalikan segala unsur Panca Maha Bhuta (5 unsur pembangun badan kasar manusia) kepada asalnya masing-masing agar tidak menghalangi perjalan Atma ke Sunia Loka Bagian Panca Maha Bhuta yaitu : a. Pertiwi : unsur padat yang membentuk tulang, daging, kuku, dll b. Apah: unsur cair yang membentuk darah, air liur, air mata, dll c. Bayu : unsur udara yang membentuk nafas. d. Teja : unsur panas yang membentuk suhu tubuh. e. Akasa : unsur ether yang membentuk rongga dalam tubuh.

3.      Bagi pihak keluarga, upacara ini merupakan simbolisasi bahwa pihak keluarga telah ikhlas, dan merelakan kepergian yang bersangkutan.

Kamis, 30 April 2015

Kelompok 3         :
Sadawi                          1113032100047
Nur Fitri Barliyana      1113032100048
Shofiyatul Fithriyah     1113032100044
Anifah Ayu Fitriah       1113032100076

Ajaran Budha Dharma Tentang Etika (Sila)
1.     Pengertian sila

Sila berasal dari bahasa Sansekerta dan bahasa Pali. Sila yang digunakan dalam kebudayaan Buddhis mempunyai banyak arti. Pertama, berarti norma (kaidah), peraturan hidup, perintah. Kedua, kata itu menyatakan pula keadaan batin terhadap peraturan hidup, hingga dapat berarti juga ‘sikap, keadaban, perilaku, sopan-santun’ dan sebagainya. 
Intisari Sila adalah peniadaan pelanggaran dalam hidup bersusila . Sila, sebagai landasan moral bagi pelaksanaan Dhamma selanjutnya merupakan ‘hukum’ yang jika ditaati akan membawa kebaikan dan jika tidak ditaati akan menyebabkan manusia tidak dapat maju kualitas batinnya.
Cetusan sila yaitu kesucian pikiran,ucapan dan tindakan badan. Dasar sila adalah perasaan malu untuk berbuat kejahatan dan takut berbuat kejahatan karna hati nurani. Sila dibangun atas suatu konsepsi cinta kasih dan belas kasih semua makhluk hidup. Ciri dari sila adalah ketertiban dan ketenangan. Dalam agama Buddha, sila merupakan dasar utama dalam pelaksanaan ajaran agama, mencakup semua perilaku dan sifat-sifat baik yang termasuk dalam ajaran moral dan etika agama Buddha.
Sila dalam agama Buddha tidak hanya Pancasila dan Atthangasila saja, tetapi ada juga sila yang terdapat dalam sutta-sutta yang diberikan oleh sang Buddha untuk dilaksanakan sehari-hari, seperti Vaghapajja Sutta, Mangala Sutta, Sigalovada Sutta, Parabhava Sutta. Sila yang terdapat dalam Sigalovada Sutta merupakan caritta sila, sila dalam aspek positif atau sila penganjuran.

2.      Macam-macam sila
Sila menurut jenis orang yang melaksanakan terdiri dari 3 macam, yaitu :
a. Sila upasaka-upasika adalah pancasila Buddhis. Bila kelima sila ini dilaksanakan dengan sungguh-sungguh maka akan memiliki 5 macam kekayaan,
Keyakinan terhadap Triratna dan diri sendiri
• Kemurnian sila dan pelaksanaannya
• Keyakinan terhadap hukum karma
• Mencari kebaikan di dalamdhamma
• Berbuat baik sesuai dengandhamma
b. Sila bagi Samanera-samaneri adalah majjhima sila (sila menengah). Untuk aliran Theravada melaksanakan 10 sila dan 75 sekhiya. Untuk aliran Mahayana melaksanakan 10 sila dan 100 siksakaranya.

c. Sila para bhikkhu dan bhikkhuni disebut patimokkhasila atau panita sila (sila yang tinggi). Sila bagi bhikkhu Theravada berjumlah 227 sila, bhikkhuni 311 sila. Khusus sila bagi para bhikkhuni Theravada telah dihapuskan sejak tahun 1257 m karena dalam aliran Theravada tidak ada lagi sangha bhikkhuni. Sila bagi bhikkhu Mahayana berjumlah 250 sila dan bhikkhuni 348 sila.Patimokkha sila
Peraturan-peraturan ke-Bhikkhu-an yang ditentukan oleh Sang Buddha (Sikkhapada) meliputi :
·         Yang ada didalam Patimokkha.
·         Yang tidak ada dalam Patimokkha.
·         Yang ada dalam Patimokkha meliputi:
·         Empat Parajika.
·         Tiga belas Sanghadisesa.
·         Tiga puluh Nissaggiya-pacittiya.
·         Dua Aniyata.
·         Sembilan puluh dua Pacittiya.
·         Empat Patidesaniya.
·         Tujuh puluh lima Sekhiyavatta.
Tujuh peraturan tersebut di atas meliputi 220 dan ditambah 7 Adhikarana Samatha, semuanya berjumlah 227 peraturan.
Seorang bhikkhu Theravāda memiliki 227 peraturan (Sīla) dalam Pāṭimokkha sementara seorang bhikkhu Mahayana pada dasarnya memiliki peraturan yang sama dengan tambahan bagian minor yang berhubungan dengan sikap hormat pada stupa, yang menjadikannya 250 peraturan secara keseluruhan.

Panca sila (lima sila )
            Pancasila adalah lima adat kebiasaan atau praktek moral dalam agama Buddha. Pancasila adalah latihan moral tahap pertama dari seseorang yang akan memasuki kehidupan beragama menurut agama Buddha. Sila ini bila dilaksanakan dengan baik akan membawa kehidupan sewarga, baik sebagai manusia atau sebagai dewata. Pancasila Buddhis digunakan untuk seseorang yang akan memasuki kehidupan beragama Buddha. Sang Buddha bersabda bahwa, “Barang siapa sempurna dalam sila dan mempunyai pandangan terang, teguh dalam dhamma, selalu berbicara benar dan memenuhi segala kewajibannya, maka semua orang akan mencintainya” (Dhammapada, XVI: 217).

1.       Panatipata veramani sikkhapadam samadiyami 
      Aku bertekad melatih diri untuk tidak melakukan pembunuhan makhluk hidup.

2.      Adinnadana veramani sikkhapadam samadiyami
    Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengambil barang yang tidak diberikan.

3.      Kamesu micchacara veramani  sikkhapadam samadiyami
Aku bertekad akan melatih diri untuk tidak melakukan perbuatan seksualitas yang tidak   dibenarkan.

4.       Musavada veramani  sikkhapadam samadiyami
      Aku bertekad melatih diri untuk tidak mengucapkan ucapan yang tidak benar.
           
5.       Surameraya majjapamadatthana veramani sikkhapadam samadiyami
Aku bertekad melatih diri untuk tidak minum segala minuman keras  yang dapat menyebabkan  lemahnya kesadaran (ketagihan).

2.      Catur Paramitha dan Catur Mara

Ø  Catur Paramitha 
Paramita yaitu sifat- sifat ketuhanan yang ada dalam diri manusia. Artinya didalam bathin semuanya merupakan segala perbuatan baik, baik dalam pikiran, ucapan maupun badan.
Untuk mencapai kebahagian, ketenangan, dan kegembiraan bagi hidup maka harus dapat mengembangkan paramita.
 “Sabbapapassa akaranam, kusalassa upasampada sacitta pariyodapanam, etam Buddhana sasanam” 
“Tidak melakukan segala bentuk kejahatan, senantiasa mengembangkan kebajikan dan  membersihkan batin;  inilah Ajaran Para Buddha ” (Dhammapada Buddha Vagga, 183)

Sifat ketuhanan terdiri dari :
1. Metta : cinta kasil universal yang menjadi akar dari perbuatan baik.
Dengan tidak membunuh atau menyakiti mahluk lain, maka selanjutnya kita berusaha mengembangkan pikiran cinta kasih dan kasih seyang kepada semua mahluk. Jadi kita tidak hanya tidak membunuh, tetapi juga secara aktif mengembangkan cinta kasih dan kasih sayang kita kepada semua mahluk.
2. Karuna, ialah kasih-sayang universal karena melihat suatu kesengsaraan, yang menjadi akar perbuatan baik (kusala-kamma). Bila ini berkembang lobha akan tertekan.
·         Mudhita, ialah perasaan bahagia (simpati) universal karena melihat makhluk lain bergembira, yang menjadi akar dari perbuatan baik (kusala-kamma). Bial ini berkembang issa akan tertekan.
·         Upekkha, ialah keseimbangan bathin universal sebagai hasil dari melaksanakan metta. Karuna. Mudhita dan upekkha, juga merupakan akar dari perbuatan baik (kusala-kamma). Bila ini telah berkembang moha akan tertekan, bahkan akan lenyap.

Ø Catur Mara
Mara merupakan sifat- sifat setan / jahat dalam bathin manusia dan ini merupakan sumber dari segala perbuatan buruk baik dalam pikiran, ucapan dan badan.
 Catur Mara terdiri dari :
·         Dosa, ialah kebencian yang menjadi akar dari perbuatan jahat (akusalakamma) dan akan lenyap bila di kembangkan metta. Dosa ini secara etika (ajaran tentang keluhuran buda dan kesopanan) berarti kebencian. Tetapi secara psychilogi (kejiwaan) berarti pukulan yang berat dari pikiran terhadap objek bertentangan.
·         b.   Lobha, ialah serakah yang menjadi akar dari perbuatan jahat (akusalakamma) dan akan lenyap bila di kembangkan karuna. Lobha ini secara ethica berarti keserakahan/ketamakan. Tetapi secara psychilogi (kejiwaan) berarti terikat  pikiran pada objek-objek.
·         c.    Issa, ialah iri hati yaitu perasaan tidak senang melihat makhluk lain berbahagia, yang menjadi akar dari perbuatan jahat (akusalakamma) dan akan lenyap bila dikembangkan mudhita.
·         d.    Moha, ialah kegelisahan bathin sebagai akibat dari perbuatan dosa, lobha, dan issa. Akan lenyap bila dikembangkan upekkha. Moha berarti kebodohan dan kurangnya pengertian. Selain itu moha juga disebut Avijja yaitu ketidaktahuan, atau Annana yaitu tidak berpengetahuan, atau Adassana yaitu tidak melihat.

Ø Hubungan sila dengan catur paramitha
Sila bertujuan untuk memperoleh suatu penghidupan yang bahagia dan harmonis bagi orang itu sendiri dan juga untuk orang-orang disekelilingnya. Sila dapat dilaksanakan dengan baik apabila pikiran penuh dengan catur paramitha.
Pelaksanaan aturan moralitas Buddhis bagi umat awan bertujuan untuk memperoleh kedamaian dan ketenangan bagi diri sendiri maupun orang lain. Sila  adalah langkah terpenting dalam menjalani kehidupan untuk mencapai peningkatan batin yang luhur.
Untuk memperoleh kesempurnaan ada 2 macam sifat luhur yang harus dikembangkan bersamaan yaitu : metta / karuna (cinta kasih), panna( kebijaksanaan) Dari matta/ karuna dan panna dapat dilihat bahwa cinta kasih dan kebijaksanaan merupakan kesatuan yang tidak dapat dipisahkan.

            

Kamis, 23 April 2015

AJARAN HINDU DHARMA TENTANG ETIKA (SUSILA)

AJARAN HINDU DHARMA TENTANG ETIKA (SUSILA)
Tat Twam Asi
            Tat Twam Asi berarti “KAU adalah aku”. “Kau” disini mengacu pada substrat yang tak lepas dari setiap individu. Hal tersebut adalah sesuatu yang paling dasar , jauh dari segala sifat keakuan. Dalam pengertian ini “kau” berarti atman.“Aku“ menurut weda adalah Brahman, realitas yang melampaui segala sesuatu yang terbatas.
            Makna dari kalimat ini adalah sang diri- dalam kondisi asli, murni, Tulen- merupakan bagian yang identik dengan kebenaran sejati yang merupakan asal dari segala fenomena di dunia.
Chubakarma
            Berarti perbuatan baik.Chubakarma terbagi menjadi 12 yaitu :
1.      Tri Kaya Parisudha
artinya tiga gerak prilaku manusia yang harus disucikan, yaitu berfikir  yang bersih atau suci, berkata yang benar, dan berbuat yang jujur. Dari Tri kaya parisudha timbul adanya 10 pengendalian diri.
2.       Catur Paramita
artinya empat bentuk budi luhur, yaitu Maitri artinya lemah lembut, yang merupakan bagian budi luhur yang berusaha untuk kebahagiaan segala makhluk. Karuna adalah belas kasian atau  kasih sayang, yang merupakan bagian dari budi luhur, yang menghendaki terhapusnya penderitaan segala makhluk. Mudita artinya sifat dan sikap menyenangkan orang lain. Upeksa artinya sifat dan sikap suka menghargai orang lain.
3.       Panca Yana Bratha
artinya lima macam pengendalian diri dalam hubungannya dengan perbuatan untuk menapai kesempurnaan rohani dan kesucian batin. terdiri dari lima bagian yaitu : Ahimsa artinya tidak menyiksa dan membunuh makhluk lain dengan sewenang-wenang, Brahma cari artinyatidak melakukan hubungan kelamin selama menuntut ilmu, dan berarti juga pengendalian terhadap nafsu seks, Satya artinya benar, setia, jujur yang menyebabkan  senangnya  orang  lain.             Awyawahara atau Awyawaharita artinya melakukan usaha yang selalu bersumber kedamaian dan ketulusan, dan Asteya atau Astenya artinya tidak mencuri atau menggelapkan harta benda milik orang lain.
4.       Panca Nyama Bratha
artinya lima macam pengendalian diri dalam tingkat mental untuk mencapai kesempurnaan dan kesucian batin. terdiri dari lima bagian :Akrodha artinya tidak marah, Guru Susrusa artinya hormat, taat dan tekun melaksanakan ajaran dan nasehat-nasehat guru, Aharalaghawa artinya pengaturan makan dan minum, dan Apramada artinya taat tanpa ketakaburan melakukan kewajiban dan mengamalkan ajaran-ajaran suci.
5.       Sad Paramita
artinya enam jalan keutamaan untuk menuju keluhuran. terdiri dari enam bagian yaitu Sila Paramita artinya berfikir, berkata, berbuat yang baik, suci dan luhur; Ksanti Paramita artinya pikiran tenang, tahan terhadap penghinaan dan segala penyebab penyakit, terhadap orang dengki atau perbuatan tak benar dan kata-kata yang tidak baik; Wirya Paramita artinya pikiran, kata-kata dan perbuatan yang teguh, tetap dan tidak berobah, jadi Wirya Paramita ini adalah keteguhan pikiran (hati), kata-kata dan perbuatan untuk membela dan melaksanakan kebenaran; Dhyana Paramita artinya niat mempersatukan pikiran untuk menelaah dan mencari jawaban atas kebenaran. Juga berarti pemusatan pikiran terutama kepada Hyang Widhi dan cita-cita luhur untukkeselamatan;Pradnya Paramita artinya kebijaksanaan dalam meninmbang – nimbang  suatu kebenaran.
6.       Catur Aiswara
adalah suatu kerohanian yang memberikan kebahagiaan hidup lahir dan batinterhadap makhluk. Terdiri dari Dharma adalah segala perbuatan yang selalu didasari atas kebenaran; Jnana artinya pengetahuan atau kebijaksanaan lahir batin yang berguna demi kehidupan seluruh umat manusia. Wairagya artinya tidak ingin terhadap kemegahan duniawi, misalnya tidak berharap-harap menjadi pemimpin, jadi hartawan, gila hormat dan sebagainya; Aiswarya artinya kebahagiaan dan kesejahteraan yang didapatkan dengan cara (jalan) yang baik atau halal sesuai dengan hukum atau ketentuan agama serta hukum yang berlaku di  dalam  masyarakat dan negara.
7.       Asta Siddhi
adalah delapan ajaran kerohanian yang memberikan tuntunan kepada manusia untuk mencapai taraf hidup yang semupurna dan bahagia lahir dan batin. Terdiri dari Dana artinya senang melakukan amal dan derma; Adnyana artinya rajin memperdalam ajaran kerohanian ; Sabda artinya dapat mendengar wahyu karena intuisinya yang telah mekar; Tarka artinya dapat merasakan kebahagiaan dan ketntraman dalam semadhi; Adyatmika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam gangguan pikiran yang tidak baik; Adidewika Dukha artinya dapat mengatasi segala macam penyakit (kesusahan yang berasal dari hal-hal yang gaib), seperti kesurupan, ayan, gila, dan sebagainya. Adi Boktika artinya dapat mengatasi kesusahan yang berasal dari roh-roh halus, racun dan orang-orang sakti; dan Saurdha adalah kemampuan yang setingkat dengan yogiswara yang telah mencapai kelepasan.
8.       Nawa Sanga
            Terdiri dariSadhuniragraha artinya setia terhadap keluarga dan rumah tangga; Andrayuga artinya mahir dalam ilmu dan dharma; Guna bhiksama artinya jujur terhadap harta majikan; Widagahaprasana artinya mempunyai batin yang tenang dan sabar; Wirotasadarana artinya berani bertindak berdasarkan hukum; Kratarajhita artinya mahir dalam ilmu pemerintahan; Tiagaprassana artinya tidak pernah menolak perintah;     Curalaksana artinya bertindak cepat, tepat dan tangkas; dan Curapratyayana artinya perwira dalam perang.
9.       Dasa Yama Bratha
adalah sepuluh macam pengendalian diri , yaitu : Anresangsya atau Arimbhawa artinya tidak mementingkan diri sendiri; Ksama artinya suka mengampuni dan  dan tahan ujidalam kehidupan; Satya artinya setia kepada ucapan sehingga menyenangkan setiap orang; Ahimsa artinya tidak membunuh atau menyakiti makhluk lain; Dama artinya menasehati diri sendiri; Arjawa artinya jujur dan mempertahankan kebenaran; Priti artinya cinta kasih sayang terhadap sesama mahluk; Prasada artinya berfikir dan berhati suci dan tanpa pamerih; Madurya artinya ramah tamah, lemah lembut dan sopan santun; dan Mardhawa artinya rendah hati; tidak sombong dan berfikir halus.
10.   Dasa Nyama Bratha
Terdiri dari Dhana artinya suka berderma, beramal saleh tanpa pamerih; Ijya artinya pemujaan dan sujud kehadapan Hyang Widhi dan leluhur; Tapa artinya melatih diri untuk daya tahan dari emosi yang buruk agar dapat mencapai ketenangan batin; Dhyana artinya tekun memusatkan pikiran terhadap Hyang Widhi; Upasthanigraha artinya mengendalikan hawa nafsu birahi (seksual); Swadhyaya artinya tekun mempelajari ajaran-ajaran suci khususnya, juga pengetahuan umum; Bratha artinya taat akan sumpah atau janji; Upawasa artinya berpuasa atau berpantang terhadap sesuatu makanan atau minuman yang dilarang oleh agama; Mona artinya membatasi perkataan; dan Sanana artinya tekun melakukan penyician diri pada tiap-tiap hari dengan cara mandi dan sembahyang.
11.   Dasa Dharma
Menurut Wreti sasana yaitu, Sauca artinya murni rohani dan jasmani; Indriyanigraha artinya mengekang indriya atau nafsu; Hrih artinya tahu dengan rasa malu; Widya artinya bersifat bijaksana; Satya artinya jujur dan setia terhadap kebenaran; Akrodha artinya sabar atau mengekang kemarahan; Drti artinya murni dalam bathin; Ksama artinya suka mengampuni; Dama artinya kuat mengendalikan pikiran; dan Asteya artinya tidak melakukan kecurangan.
12.   Dasa Paramartha
adalah sepuluh macam ajaran kerohanian yang dapat dipakai sebagai penuntun tingkah laku yang baik dan untuk mencapai moksa. Terdiri dariTapa artinya pengendalian diri lahir dan bathin; Bratha artinya mengekang hawa nafsu; Samadhi artinya konsentrasi pikiran kepada Tuhan; Santa artinya selalu senang dan jujur; Sanmata artinya tetap bercita-  cita dan bertujuan terhadap kebaikan; Karuna artinya kasih sayang terhadap sesama makhluk   hidup;   Karuni artinya belas kasihan terhadap tumbuh-tumbuhan, barang dan sebagainya; Upeksa artinya dapat membedakan benar dan salah, baik dan buruk; Mudhita artinya selalu berusaha untuk dapat menyenangkan hati oranglain; dan Maitri artinya suka mencari persahabatan atas dasar saling  hormat menghormati.
Achubakarma
            Adalah segalah tingkah laku yang tidak baik yang selalu menyimpang dengan Chubakarma.Sumber dari segala bentuk perbuatan yang selalu bertentangan dengan susila dan mengarah kepada kejahatan.Achubakarma terdiri dari :
1.      Catur pataka
     empat tingkatan dosa sesuai jenis karma yang menjadi sumbernya yang dilakukan manusia yaituKasmala ialah perbuatan yang hina dan kotor, Mada yaitu perkataan, pembicaraan yang dusta dan kotor, dan Moha adalah pikiran, perasaan yang curang dan angkuh.
2.      Tri mala
     tiga bentuk prilaku manusia yang sangat kotor, yaitu :Pataka yang terdiri dari Brunaha (menggugurkan bayi dalam kandungan); Purusaghna (Menyakiti orang), Kaniya Cora (mencuri perempuan pingitan), Agrayajaka (bersuami isteri melewati kakak), dan Ajnatasamwatsarika (bercocok tanam tanpa masanya); Upa Pataka terdiri dariGowadha (membunuh sapi), Juwatiwadha (membunuh gadis), Balawadha (membunuh anak), Agaradaha (membakar rumah/merampok); Maha Pataka terdiri dari Brahmanawadha (membunuh orang suci/pendeta), Surapana (meminum alkohol/mabuk), Swarnastya (mencuri emas), Kanyawighna (memperkosa gadis), dan Guruwadha (membunuh guru); Ati Pataka terdiri dari Swaputribhajana (memperkosa saudara perempuan); Matrabhajana (memperkosa ibu), dan Lingagrahana (merusak tempat suci).
3.       Panca bahya tusti
     lima kemegahan yang bersifat duniawi dan lahiriah semata- mata yaitu:
yang timbul dari sifat sifat manusia itu sendiri, yaitu : Aryana artinya senang mengumpulkan harta kekayaan tanpa menghitung baik buruk dan dosa yang ditempuhnya; Raksasa artinya melindungi harta dengan jalan segala macam upaya; Ksaya artinya takut akan berkurangnya harta benda dan kesenangannya sehingga sifatnya seing menjadi kikir; Sangga artinya doyan mencari kekasih dan melakukan hubungan seksuil; dan Hingsa artinya doyan membunuh dan menyakiti hati makhluk lain.
4.      Panca wiparyaya
     lima macam kesalahan yang sering dilakukan manusia tanpa disadari,            sehingga akibatnya menimbulkan kesengsaraan, yaitu : Tamah artinya selalu mengharap-harapkan mendapatkan kenikmatan lahiriah; Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat kekuasaan dan kesaktian bathiniah; Maha Moha artinya selalu mengharap-harapkan agar dapat menguasai kenikmatan seperti yang tersebut dalam tamah dan moha; Tamisra artinya selelu berharap ingin mendapatkan kesenangan akhirat; dan Anda Tamisra artinya sangat berduka dengan sesuatu yang telah hilang.
5.      Sad Ripu
     enam jenis musuhKama artinya sifat penuh nafsu indriya; Lobha artinya sifat loba dan serakah; Krodha artinya sifat kejam dan pemarah; Mada adalah sifat mabuk dan kegila-gilaan; Moha adalah sifat bingung dan angkuh; dan Matsarya adalah sifat dengki dan irihati.
6.      Sad Atatayi
     enam macam pembunuhan kejam, yaituAgnida artinya membakar milik orang lain; Wisada artinya meracun orang lain; Atharwa artinya melakukan ilmu hitam; Sastraghna artinya mengamuk (merampok); Dratikrama artinya memperkosa kehormatan orang lain; Rajapisuna adalah suka memfitnah.
7.       Sapta timara
     tujuh macam kegelapan pikiran, yaitu : Surupa artinya gelap atau mabuk karena ketampanan; Dhana artinya gelap atau mabuk karena kekayaan; Guna artinya gelap atau mabuk karena kepandaian; Kulina artinya gelap atau mabuk karena keturunan; Yowana artinya gelap atau mabuk karena keremajaan; Kasuran artinya gelap atau mabuk karena kemenangan; dan Sura artinya mabuk karena minuman keras.
8.      Dasa Mala
     sepuluh macam sifat yang kotor , yaitu : Tandri adalah orang sakit-sakitan; Kleda adalah orang yang berputus asa; Leja adalah orang yang tamak dan lekat cinta; Kuhaka adalah orang yang pemarah, congkak dan sombong; Metraya adalah orang yang pandai berolok-olok supaya dapat mempengaruhi teman (seseorang); Megata adalah orang yang bersifat lain di mulut dan lain di hati; Ragastri adalah orang yang bermata keranjang; Kutila adalah orang penipu dan plintat-plintut; Bhaksa Bhuwana adalah orang yang suka menyiksa dan menyakiti sesama makhluk; dan Kimburu adalah orang pendengki dan iri hati.